Terjadi bentrok antar Agama di India

Polisi Delhi telah dituduh telah menampar 2 orang aktivis mahasiswa Muslim dengan tuduhan yang tidak benar terjadi, tujuan tersebut agar berkonspirasi untuk menghasut kerusuhan baru baru ini terjadi. 

Kerusuhan dan kekerasan agama ini terjadi yang paling terburuk yang terjadi di ibukota india selama beberapa dekatde ini dan pada hal ini polisi dituduh telibat dalam kerusuhan antar agama ini. 

Awal bermula terjadinya benrok itu terjadi 

Pada awal mula terjadi atas penuduhan tersebut Mahasiswa itu dituduh yang menjadi akar dari semua biang kerusuhan ini bernama Meeran Haider dan juga Safoora Zargar yang merupakan mahasiswa di Universitas Jamila Millia Islamia yang mayoritasnya itu adalah orang-orang Muslim yang berada di Delhi, ke dua orang yang tidak bersalah ini telah didakwa berdasarkan undang-undang yang ada yaitu Pencegahan Aktivitas Melanggar Hukum, yang biasanya hal ini dilakukan untuk kegiatan teroris.

Dikutip dari pikiran-rakyat.com, tuduhan tersebut kepada dua mahasiswa aktivis tersebut terikat dengan dugaan “konspirasi yang terencana” untuk membangkitkan kebencian para komunal melalui serangan pidato yang menurut polisi hal ini yang memicu kerusuhan agama di Delhi.

Pengacara yang mewakili dari mahasiswa aktivis tersebut mengatakan bahwa ia tidak melihat bukti atau dokumentasi yang 2 mahasiswa aktivis itu lakukan. Kerusuhan dan bentrokan yang terjadi di utara dan timur Delhi pada akhir febuari ini mengakibatkan rumah-rumah warga dibakar dan juga dihancurkan, dan tidak sedikit warga yang luka-luka sekiranya ada ribuan warga yang terluka akibat bentrokan tersebut, dan banyaknya korban adalah mayoritas dari kalangan Muslim.

Pada kerusuhan ini diakui yang memicunya itu adalah komentar pedas yang dibuat oleh Kapil Mishra ia adalah seorang pemimpin dari partai nasionalis Hindu Bharatiya Janata atau bisa di sebut juga BJP yang berkuasa, ada juga tentang Muslim yang secara damai memprotes tentang undang-undang kewanegaraan baru yang kontroversial. Bukti yang didapat berupa adalah sebuah video dan laporan dari saksi mata adalah menunjuk ke polisi yang memberi izin untuk segerombolan Hindu berkeliaran dijalan-jalan dengan sangat bebas untuk menargetkan komunitas Muslim.

Dari yang diselidiki polisi tentang penyebabnya kekerasan itu terjadi, yang berfokus pada komunitas Muslim dan para aktivis mahasiswa yang berada di delhi, terutama untuk mereka yang sebelumnya itu ia telah dikenal karena terlibat dalam protes massa mahasiswa terhadap Citendens Amebdnet Act atau CAA pada bulan desember tahun 2019 lalu.

Mantan dari pemimpin Universitas Jawaharlal Neru (JNU), yang bernama Umar Khalid ini salah satu yang protes anti-CAA pada bulan Desember, ini juga disebutkan pada laporanya polisi tentang yang diduga adalah persekongkolan yang mengakibatkan kerusuhan, tetapi hal ini belum diotangkap. Salah satu juga mantan pemimpin serikat mahasiswa JNU, Shehla Rasheed, yang menyatakan prosesnya penangkapan mahasiswa Muslim yang berada di India melalui unggahannya lewat unggahan Twitter Pribadinya sendiri.

Shehla Rasheed berkata dalam cuitannya “ Ada satu lagi kasus yang dinyatakan palsu! Sangat amat memalukan, bagaimana bisa pemerintahan India tanpa protes untuk menargetkan aktivis yang progresif, intelektual, jurnalis. Tetaplah kuat jangan mudah dijatuhkan oleh kebohongan”

Komite koordinasi Jamia, salah satu kelompok mahasiswa dan juga alumni juga mengutuk atas penangkapan tersebut. Kutipan dari mahasiswa dan juga para alumni berkata “ Negara ini sedang menghadapi krisisnya kesehatan sangat besar-besaran. Namun juga, mesinnya negara sibuk untuk melecehkan dan membingkai aktivis mahasiswa dalam kasus-kasus palsu ini untuk menekan para suara pendapat yang berbeda.

Sampai beberapa waktu setelah adanya kasus tersebut, kerusuhan yang ada di Delhi diperkirakan sudah berhasil menangkap 50 hingga 300 orang di dalam kerusuhan tersebut. Kepolisian juga mengatakan bahwa “ Semua penangkapan yang dilakukan ini berdasarkan pada adanya analisis ilmiah dan juga forensik, termasuk juga ada rekaman videonya, jejak teknis, dan juga ada jejak kaki siapa saja itu .” ini sekilas rekaman percakapan atas perkataan polisi setempat.

UU yang Kontroversial Anti-Muslim menjadi biang keladi

Semuanya terjadi berawal sejak 2 bulan lalu ketika Perdana menteri bernama Narendra Modi yang telah meloloskan undang-undang anti-muslim atau UU Amandemen warga negara atau biasa disebut juga sebagai “Citizenship Amendment Bill”.  dimana didalam hal tersebut ini memang tidak pernah untuk bisa dipikirkan menurut UU dan malahan menjadi suatu hal yang penuh Kontroversi di Publik – India. Bahkan sejumlah artis Bollywood berbondong-bondong untuk meramaikan protes terhadap UU CAB ini yang dianggap sebagai anti-Muslim, UU CAB ini salah satunya berisikan soal kemungkinan para imigran ilegal dari afganistan, banglades, dan ada juga dari pakistan untuk mendapatkan kewarganegaraan, kecuali orang yang beragama Muslim, itulah sebagian berita yang diberitakan oleh BBC.UU ini juga mengharuskan umat muslim di india wajib untuk membuktikan bahwa mereka warga asli india. Sehingga ada kemungkinan juga warga muslim india juga akan kehilangan kewarganegaraannya dikarenakan memiliki agama muslim di india dan kehilangan kewarganegaraan tanpa adanya alasan yang kongkrit. Al Jazeera juga menuliskan tentang partai oposisi Kongres Nasional yang berpendapat hukum ini itu sangatlah diskriminatif teruntuk umat MUslim, terlebih lagi ini juga diberlakukan di negara sekuler dengan penduduk kurang lebih 1,3 miliar penduduk yang mana 15% nya itu adalah masyarakat Muslim. Yang dikritik dari UU CAB itu adalah langkah bagian dari agenda supremasi Hindu di bawah pemerintahannya Perdana Menteri Narendra Modi sejak ia berkuasa di india selama hampir 6 tahun yang lalu.

Berbahayanya Politik pada jaman nya Modi

Perdana Mentri Modi itu seseorang yang nasionalis Hindu. Dan ia juga yang tidak menutup menutupi akan hal itu. Dan hal ini pun semakin diperjelas dengan kebijakan yang ia gunakan pada tahun lalu hanya demi untuk meluluskan agenda politiknya.

Sejak terpilihnya ia sebagai Perdana Mentri pada tahun 2014, iya merombak ulang India dengan yang awalnya demokrasi sekuler yang awalnya mengakomondasi keragaman agama menjadi bangsa Hindu yang mendominasi minoritas, terutama untuk 200 juta warga yang beragama Muslim di negara india. Modi dan para pengikutnya melakukan perundingan besar besaran dan menekan pres untuk mendukung yang mereka sebut itu dengan sebutan “india baru”.

Beberapa bulan setelah terpilihnya modi ia langsung saja membagi wilayah bekas negara bagian Jammu dan Kashmir, yang merupakan juga sebagai daerah ortonom, yang menjadi dua wilayah persatuan. Hal ini juga yang memungkinkan pemerintahan India pada akhirnya yang memiliki otoritas yang penuh terhadap wilayah dengan mayoritas nya berisikan Muslim.

Puncaknya itu berada di ketika ia meloloskan UUD CAB pada tahun 2019 dan itu yang membuat banyak warga yang turun ke jalanan. UU CAB itu sudah banyak penolakan dari banyak kelompok masyarakat, namun ternyata india tak mengenal pemungutan suara yang dimana hampir 80% adalah penduduk hindu.

Pemerintahan kebijakan yang kontroversial Modi ini seharusnya sudah menjadi sinyal yang sangat buruk buat pemerintahannya. Lalu pertumbuhan ekonomi di bawah pemerintahannya yang sangat terlambat dalam 6 tahun terakhir ini. Ia juga menaikan jumlah pengangguran dari yang awal sekitar 6,9% sekarang menjadi 7,6% pada januari tahun lalu

Dan belum lagi kerusuhan ini adalah yang pertama dalam eranya kepemimpinan Modi. pada tahun 2002 saat ketika ia menjadi Menteri Utama negara bagian Gujarat, sekitarnya ada 2500 orang yang tewas mayoritas yang tewas adalah umat muslim di india, pemicunya itu adalah pembakaran 59 umat Hindu hingga tewas di kereta yang katanya diduga yang melakukan adalah kelompokan dari umat Muslim. Dan itu juga Mod pernah dihukum atas akan hal itu dan juga puluhan orang dari dua belah pihak dinyatakan bersalah atas kasus ini. Sejak saat itulah kelompok sayap sebelah kanan Hindu mulai bangkit lagi seiringnya hilangnya kepercayaan umat muslim India pada Mod.