Prancis : Sebuah Eksekusi Sosial Terhadap Islam ? 2/2

Artikel yang satu ini melanjutkan artikel yang sebelumnya yang mana kami akan membahas ulang sedikit artikel yang sebelumnya agar kalian tidak lupa mengenai pembahasan artikel yang sebelumnya. Kebebasan berpendapat menghalalkan kritik satire dan juga tabloid Charlie Hebdo terhadap Agama Islam. Implikasinya, kekerasan demi kekerasan yang terus saja terjadi, yang menghalalkan kematian brutal untuk pembela agama. Sampai kapan relasi kekerasan terus saja terjadi.

Namun demikian, tabloid satire Charlie Hebdo sebenarnya tidak hanya membuat karikatur Nabi Muhammad SAW saja, Agama Katolik dan juga kristen paling banyak menjadi bulan-bulanan kritik sinus oleh mereka. Seperti yang dibuatkan karikatur satire yang bahkan lebih keras bentuknya. Melalui catatan yang pendek Sosiologis, kami akan mengupas masalah relasi negara dan Islam yang ada di negara Prancis.

 

 

Ulah Tabloid Satire Charlie Hebdo

Insiden kekerasan berlatar belakang agama (Islam) terhadap masyarakat Prancis, diawali dengan insiden Charlie Hebdo. Tabloid satire Charlie Hebdo, adalah sebuah tabloid satire yang terbit setiap hari Rabu. Tabloid satire ini didirikan pada 1969, tabloid ini pernah berhenti terbit antara tahun 1981 sampai tahun 1992. Charlie Hebdo dikenal sebagai tabloid yang memiliki gambar-gambar provokatif yang menyerang segala bentuk otoritas, baik politisi, agama, sampai dengan militer. Yang paling sering mendapat kritik keras dan satire ala Charlie Hebdo adalah agama Kristen dan Katolik. Agama Islam yang paling belakangan diserang Charlie Hebdo.

Konflik paling penting antara tabloid Charlie Hebdo dengan kaum Muslim terjadi ketika pada tahun 2005, ketika Jyllands-Posten, sebuah majalah di Denmark memuat gambar karikatur Nabi Muhammad. Setahun kemudian, Charlie Hebdo memuat ulang gambar itu, serta karikatur yang menggambarkan Nabi Muhammad sedang menangis dengan tulisan: “Sulit sekali dicintai oleh orang idiot”. Pemuatan karikatur yang tidak beretika ini dianggap telah melanggar prinsip agama Islam, telah melahirkan aksi kekerasan bersenjata. Kantor tabloid Charlie Hebdo di Paris diserang dengan senjata api. Dalam insiden penembakan di kantor tabloid ini, mengakibatkan 11 orang tewas dan empat orang cedera serius. Korban tewas tersebut meliputi sembilan orang jurnalis tabloid Charlie Hebdo dan dua polisi. Salah satu korban tewas adalah Pemimpin Redaksi Charlie Hebdo, Stephane Charbonnier, atau lebih dikenal dengan nama Charb, serta tiga kartunis yang dikenal dengan panggilan Cabu, Tignous, dan Wolinski.

Karikatur Charlie Hebdo, Menuai Kontroversi, Kebebasan Berekspresi atau Intoleransi? - Jurnal Patroli News

Peristiwa terbaru, terjadi  pada 2019 lalu, ketika seorang guru Sejarah Samuel Petty untuk pembelajaran kebebasan berekspresi, telah menunjukkan karikatur gambar Nabi Muhammad melalui proyektor kepada murid-muridnya. Apa yang dilakukan Petty sesungguhnya telah menyinggung perasaan umat Islam, dan telah memicu reaksi keras dari kelompok Islam radikal dan fundamentalis. Peristiwa ini berakhir dengan pemenggalan kepala Petty oleh kelompok Islam Radikal. Sayangnya, saat itu presiden Prancis, Emmanuel Macron, atas dalih kebebasan berekspresi, tidak bersikap tegas, dan tidak melarang peredaran gambar karikatur Nabi Muhammad yang dianggap sebagai pelecehan bagi agama Islam. Kondisi situs bola tangkas
ini, dianggap menimbulkan kontroversi dan telah memancing kemarahan umat Islam dunia. Peristiwa kekerasan tersebut, pada bulan Oktober tahun 2020 ini, diikuti oleh peristiwa  penusukan terhadap tiga orang di gereja di kota Nice Prancis, yang dilakukan seorang wanita Muslim radikal.

Sebagai balasan terhadap pembunuhan terhadap warga Prancis, justru tabloid satire Charlie Hebdo malah memproyeksikan kartun Nabi Muhammad SAW di Gedung Pemerintahan di Kota Montpellier dan Toulouse selama lebih kurang empat jam, pada awal bulan November ini. Maka, tagar keras boikot terhadap produk Prancis di seluruh jazirah Arab makin marak. Mereka mulai mengosongkan barang-barang dan produk Prancis dari rak-rak di Supermarket, tidak terkecuali Supermarket Carrefour mulai diboikot. Tindakan brutal Tabloid satire Charlie Hebdo ini semakin memicu peperangan, dan antipati umat Islam terhadap negara Prancis.

 

Epilog, Prancis Masa Depan

Prancis masa depan adalah negara multikultur dan multi agama. Meski agama adalah bagian terpisah dari negara, sesuai paham yang dianut negara Prancis. Sebab bagi Prancis, agama merupakan  hubungan antara Tuhan dan Individu. Tetapi dengan semakin derasnya arus pendatang, negara Prancis tidaklah mungkin terus membenturkan keragaman agama dan budaya yang tumbuh dan ikut menjadi penyokong negara ini dengan paham liberal dan sekulernya. Sebagai bangsa yang besar tentu Prancis tidak bisa hidup menyendiri, dia juga membutuhkan relasi-relasi ekonomi, politik, sosial dan budaya dari negara-negara lain untuk tetap menegakkan negara dan bangsa Prancis. Pada era globalisasi dan keterbukaan  ini, tidak ada satu negarapun dapat hidup menyendiri tanpa bantuan negara lain.

Kebangkitan Islam di Prancis, Populasi Muslim Terbesar Eropa – Eramuslim

Menyikapi peristiwa tabloid Satire Prancis Charlie Hebdo, nampaknya apa yang dilakukan Nikaz, seorang pengusaha Prancis keturunan Aljazair patut diteladani. Ia selalu membayarkan denda bagi para Muslimah bercadar yang ditangkap pemerintah Prancis. Nikaz juga mengajukan membeli 51% saham tabloid satire Charlie Hebdo dengan nilai investasi 700.000 Euro. Tujuannya, agar media tersebut bisa lebih ramah terhadap Islam. Namun hingga saat ini pemilik majalah masih menolak keinginannya. Seruan boikot atas produk-produk Prancis diserukan Negara-negara Islam, termasuk oleh negara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Sementara Universitas Qatar telah membatalkan pekan budaya Prancis. Pilihannya, Prancis tetap bersikukuh dengan prinsip sekuler dan liberalnya atau mau mendengarkan negara-negara lain untuk tidak menghina agama Islam demi kebebasan beragama.

 

Separatisme Islam

Sebelum insiden pemenggalan kepada Paty, pada awal Oktober, Presiden Macron dalam satu pidato menegaskan bahwa “sekularisme adalah dasar negara” dan “separatisme Islam harus ditangani”. Dalam kesempatan ini pula, Macron mengumumkan rancangan undang-undang yang lebih keras untuk menangkal “separatisme Islam” ini dan untuk mempertahankan nilai-nilai sekuler.

Muslim Prancis Khawatirkan RUU Separatisme Islam | Republika Online

Macron mengatakan komunitas Muslim di Prancis, yang berjumlah enam juta orang, “mungkin akan membentuk masyarakat tandingan”. Agar “bahaya ini” tidak menjadi kenyataan, Macron mengusulkan beberapa hal, yang mencakup pengawasan yang lebih terhadap sekolah dan kontrol yang lebih besar terkait pendanaan masjid dari luar negeri. Macron mengatakan bentuk sektarianisme seperti ini sering diterjemahkan untuk tidak memasukkan anak-anak ke sekolah umum dan menggunakan kegiatan olahraga, budaya dan komunitas sebagai “alasan untuk mengajarkan ke anak-anak tentang nilai-nilai yang tidak sejalan dengan hukum yang berlaku di Prancis”. Menurut Macron, Islam “mengalami krisis di banyak negara, tidak cuma di Prancis”.

Macron juga mengatakan Prancis harus berbuat lebih banyak menawarkan ekonomi dan mobilitas sosial ke komunitas-komunitas imigran. Ia menambahkan kemiskinan bisa dimanfaatkan oleh kelompok atau orang-orang berpaham radikal.

 

Kritik Terhadap Pernyataan Macron

Pidato yang disampaikan oleh Macron adalah hasil dari diskusi selama berbulan-bulan lamanya dengan para pemimpin Agama dan juga akademis, hal ini yang katakan oleh wartawan BBC di Paris, Hugh Schonfield. Namun ada sejumlah pihak yang mengkritik pidato dari Macron. Ada yang berpandangan, usul itu sengaja untuk diajukan untuk menarik dukungan para pemilih sayap kanan, menjelang pemilihan presiden pada tahun 2022.

Kritik untuk Macron Hingga Seruan Batalkan Pembelian Jet | Republika Online

Sejumlah aktivis juga menyerang proposal Macron dengan menggambarkan sebagai “upaya pemerintah untuk menekan perkembangan Islam”.

Pegiat hak asasi manusia Yasser Louati mengatakan, proposal pemerintah “memberi angin” kepada kelompok kanan jauh dan kelompok-kelompok anti-Muslim, sementara pada saat yang sama juga “sangat merugikan murid-murid Muslim” yang harus belajar di rumah karena pandemi virus corona. Tokoh Muslim, seperti Chems-Eddine Hafiz, melalui kolom di surat kabar menegaskan bahwa apa yang disebut sebagai konsep “separatisme Islam”.