Mengapa Etnis Uighur Berkonflik dengan China?

Chaudhry Javed Atta terakhir kali melihat sang istri yaitu sekitar lebih dari setahun lalu. Setelah itu, ia yang tidak pernah mendengar kabar lagi tentang belahan jiwanya tersebut. Menurut desas-desus yang yang beredar jika warga Uighur tersebut dimasukan ke dalam sebuah kamp pengasingan yang telah dilakukan oleh para pemerintahan China. Pria yang berasal dari Pakistan yang juga berprofesi sebagai pedagang buah itu dirinya ingat, dia meninggalkan istrinya di rumah mereka yang berada di wilayah Xinjiang.

Wilayah yang memang dipenuhi oleh etnis muslim Uighur, yang berada di wilayah China barat laut, untuk kembali ke negaranya guna memperbarui visa mereka. Kejadian pilu tersebut terjadi pada tahun 2017, Ketika Atta dan istrinya Amina Manaji, telah menikah selama kurang lebih 14 tahun. Atta adalah salah satu dari ratusan pengusaha yang berasal dari Pakistan yang pasanganya telah menghilang dibawa oleh pihak berwenang China ke tempat yang mereka sebut sebagai sebuah kamp pelatihan. Beijing juga telah dituduh menginternir banyak warga dari minoritas muslim Uighur untuk kemudian “dididik kembali”, terkait dengan keyakinan yang sedang mereka anut.

Mengapa Etnis Uighur Berkonflik dengan China?

Oleh dunia internasional, hal ini juga dilihat sebagai respons terhadap kerusuhan dan juga serangan kekerasan yang dituduhkan kepada pemerintah ke kelompok separatis di China yang berada di wilayah barat laut. Etnis Uighur dan Kazakh di China mengatakan kepada sebuah kantor berita Associated Press bahwa tindakan yang yang mereka lakukan tidak berbahaya seperti bersembahyang, melihat situs web asing atau menerima panggilan telepon dari kerabat yang berada di luar negeri, bisa membuat mereka ditangkap dan kemudian dijebloskan ke kamp pengasingan. Tapi sebenarnya, siapakah etnis Uighur itu ? Dan mengapa mereka terlibat konflik dengan pemerintah China ? Berikut ini adalah beberapa rangkuman singkat mengenai kontroversi seputar kehidupan dari etnis Uighur.

Profil Singkat Uighur

Warga Uighur adalah kelompok etnis yang merupakan minoritas yang sebagian besar beragama Islam, dan terutama mereka hidup di wilayah Xinjiang, di barat laut China. Mereka juga cenderung memiliki lebih banyak kesamaan dalam budaya dengan orang-orang yang ada di negara-negara Asia Tengah dibandingkan dengan etnis Han yang ada di China. Bahasa mereka adalah bahasa Turki dan juga memiliki kesamaan dengan bahasa Uzbek, Mongol, Kazakh, dan Kyrgyz.

Islam adalah bagian penting dan merupakan identitas mereka. Sebagian besar dari mereka mempraktekkan bentuk moderat dari islam ajaran Sunni, dan beberapa lainnya mereka meneladani aliran Sufi. Lebih dari itu, orang Uighur cenderung memiliki lebih banyak ciri fisik seperti Mediterania dibandingkan dengan karakteristik Han China.

Sensus penduduk China yang dilakukan pada tahun 2010 menempatkan jumlah penduduk Uighur, sendiri berada lebih dari 10 juta jiwa, yakni jumlahnya kurang dari 1 persen dari total populasi yang ada Negeri Tirai Bambu. Meski begitu, mereka adalah kelompok etnis terbesar yang ada di wilayah otonomi Xinjiang.

Di Mana Mereka Tinggal?

Sebagian besar dari etnis Uighur tinggal di wilayah otonomi dari Xinjiang, yang merupakan sebuah wilayah terluas di China. Xinjiang secara strategis merupakan wilayah yang sangat penting bagi China, karena berbatasan langsung dengan delapan negara, yakni negara Mongolia, Rusia, Kazakhstan,Afghanistan, Kyrgyzstan, Tajikistan, Pakistan, dan negara India. Hingga saat ini, penduduk yang berada di wilayah Xinjiang didominasi oleh orang Uighur, tetapi masuknya etnis Han ke wilayah itu, semakin memicu ketegangan yang ada di antara kedua kelompok.

Xinjiang adalah tempat yang juga sangat kaya akan sumber daya alam, dan ekonominya sebagian besar juga berputar di sekitar pertanian dan juga perdagangan. Kota-kotanya pernah menjadi sebagai titik penghentian utama di sepanjang Jalan Sutra yang dahulu sangat terkenal. Apa yang sekarang dikenal sebagai Xinjiang berada dibawah kekuasan China sejak abad ke-18. Wilayah inu juga mengalami periode kemandirian yang singkat di tahun 1940an. Tetapi Beijing kembali mendapat sebuah kontrol ketika Komunis mengambil alih kekuasaan yaitu pada 1949.

Mengapa Uighur Berkonflik dengan China?

Xinjiang telah mengalami pergeseran demografi cukup besar dalam 70 tahun terakhir. Orang-orang dari etnis Uighur menjadi 75% yang mendominasi populasi yang ada di kawasan tersebut pada tahun 1945, tetapi kemudian turun sebanyak 45% pada saat ini. Hal tersebut tentunya disebabkan oleh eksodus besar-besaran yang dilakukan oleh masyarakat etnis Han ke kota-kota yang ada di Xinjiang, di mana sebagian dari mereka tertarik oleh proyek-proyek pembangunan besar yang telah membawa banyak kemakmuran yang ada di wilayah tersebut.

Namun, orang Uighur mengeluh bahwa pekerjaan pekerjaan-pekerjaan yang terbaik biasanya selalu di berikan kepada etnis Han saja. Hal tersebut pada akhirnya, memicu sebuah kebencian antar kelompok. Populasi Han di China telah tumbuh dari 9 persen pada tahun 1945 menjadi 40 persen pada saat ini. China juga menyerahkan sejumlah besar dari pasukannya yang ditempatkan di wilayah tersebut.

Seiring juga dengan perubahan demografi, aktivis mengatakan kemampuan dari masyarakat Uighur untuk terlibat dalam kegiatan bisnis dan juga budaya telah secara bertahap dibatasi oleh pemerintah China. Mereka juga mengatakan jika pemerintah China menempatkan pembatasan keras terhadap Islam. Menuding tradisi muslim konvensional sebagai sebuah bentuk “ekstremisme”. Laporan media mengatakan bahwa di dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah Xinjiang menyelenggarakan sebuah upacara umum dan penandatanganan, di mana etnis minoritas akan mengucapkan janji setia kepada Partai Komunis yang ada di China.

Kapan Ketegangan Terjadi antara Uighur dan China?

Ketegangan yang terjadi antara orang Uighur dan pemerintah China meningkat pada dimulai pada tahun 1990-an, ketika dukungan untuk kelompok separatis meningkat di wilayah Xinjiang. Kelompok-kelompok itu terinspirasi juga oleh runtuhnya Uni Soviet dan kemudian memunculkan negara-negara muslim merdeka yang ada di Asia Tengah. Dunia internasional juga menuduh China mengintensifkan tindakan kerasnya terhadap orang-orang dari etnis Uighur saat menjelang Olimpiade Beijing yaitu pada 2008, tetapi ketegangan meningkat secara dramatis pada tahun 2009. Kerusuhan juga terjadi pada tahun yang sama tepatnya di kota daerah, Urumqi. Dan para pejabat China mengatakan jika sekitar 200 orang terbunuh, sebagian besar dari mereka adalah etnis Han. Beijing melakukan sebuah tinakan keras untuk menghentikan sebuah sentimen dan separatis.

Ketegangan juga meningkat lagi yaitu pada 2016, ketika seorang sekretaris baru dari partai kala itu, Chen Quanguo, berkunjung ke wilayah Xinjiang, untuk menetapkan sebuah kebijakan garis keras yang serupa terjadi sebelumnya di wilayah Tibet. Sejak saat itu, kelompok-kelompok hak asasi manusia kemudian menuduh China sengaja menempatkan satu juta orang Uighur di beberapa kamp-kamp pengasingan. China juga mengatakan telah menempatkan Uighur pada “pusat pendidikan kejuruan” untuk menghentikan sebuah penyebaran dari ajaran ekstremisme agama, dan juga sebagai upaya untuk menghentikan gelombang dan serangan teroris.

Demikian itulah beberapa fakta menarik tentang muslim Uighur. Siapa mereka dan kenapa mereka bertentangan dan berkonflik dengan pemerintah China. Uighur adalah etnis Islam yang tinggal di wilayah China dan mendapatkan intimidasi dari pemerintah China. Hak etnis Uighur yang dibatasi oleh pemerintah China, serti berdirinya kamp-kamp pengasingan untuk mendidik kembali masyarakat dan etnis Uighur dalam ajaran agama mereka. Semoga konflik masyarakat Uighur dan China dapat selesai.