Konflik yang Sempat Mengancam Dunia Pada Tahun 2019

Konflik lokal ini dapat menggambarkan tren global. Cara-cara yang mereka memulai dan juga cara mereka menyelesaikan masalah juga mencerminkan pergeseran dalam hubungan negara-negara yang besar. 

Namun, akan sangat sulit untuk menyangkal bahwa ada sesuatu hal yang sedang terjadi. Pemahaman dan juga keseimbangan kekuasaan yang di mana tatanan global dulunya dapat dengan mudah untuk diprediksi, sudah tidak lagi berlaku. Washington ini sangat ingin mempertahankan manfaat dari kepemimpinannya dan ia pun tidak mau memikul beban. Sebagai akibatnya, Amerika Serikat bersalah atas dosa utama yang mereka miliki dari kekuatan yang besar mana pun akan membiarkan jarak antara tujuan dan caranya akan semakin besar. Pada saat ini, baik teman ataupun musuh tidak akan tahu persis ada dimana posisi Amerika ini. Peran dari negara yang besar lainnya juga akan berubah. China sudah menunjukkan kesabaran suatu negara yang dapat di percaya akan pengaruhnya, akan tetapi tidak terlalu terburu-buru untuk sepenuhnya menggunakannya. Mereka ini akan memilih pertempurannya, dengan cara fokus pada prioritas yang sudah diidentifikasi sendiri seperti kontrol pada domestik dan juga pada penindasan terhadap potensi pada perbedaan pendapat seperti di Hong Kong, atau pada penahanan massal Muslim yang berada di Xinjiang Laut China Selatan dan juga Laut Timur dan teknologi yang sedang terjadi akibat dari perang dengan Amerika Serikat. Rusia ini, sebaliknya dari China, Rusia menunjukkan ketidaksabaran dan juga negara ini ingin menegaskan kekuatannya sebelum waktunya habis.

Berikut ini ada beberapa konflik yang ada di dunia yang sempat mengancam dunia pada tahun 2019 silam.

Afghanistan 

Ada banyak sekali orang yang terbunuh akibat pertempuran yang ada di Afghanistan karena adanya konflik lainnya pada saat ini yang ada di dunia. Namun akan ada kemungkinan akan ada perdamaian di tahun 2020 yang memiliki sebuah tujuan mengakhiri perang yang sudah berlangsung di beberapa dekade ini. Tingkat pada pertempuran darah telah melonjak selama dua tahun terakhir ini. Serangan yang terpisah oleh gerilyawan Taliban dan juga pada militan ISIS yang telah mengguncang kota-kota yang ada di dunia. Washington dan juga Kabul telah meningkatkan serangan di udara dan juga pada serangan pasukan khusus, yang dimana warga sipil sering sekali mendapatkan kekerasan. Penderitaan kekerasan ini sering terjadi di daerah pedesaan yang besar.

Di tengah-tengah meningkatnya kekerasan, pada saat itu pemilihan presiden berlangsung di akhir bulan september. Hasil dari pemilihan itu diumumkan pada tanggal 22 bulan desember, hasil yang didapat adalah pertahanan Presiden Ashraf Ghani Margin ini sangat tipis sekitar lebih dari 50% yang ia perlukan untuk masuk ke putaran kedua. Meskipun begitu, perselisihan ini ada kecurangan dengan lawan yang utama dari Ghani, yaitu Abdullah Abdullah yang kemungkinan akan membayangi para pemimpin di Afghanistan hingga tahun 2020. Pada tahun lalu, melihat titik terang dalam diplomasi di Amerika Serikat dan juga Taliban. Hal ini untuk pertama kalinya sejak perang itu dimulai, Washington ini telah memprioritaskan dan juga sudah mencapai kesepakatan dengan para pemberontak yang ada pada saat itu.

 

Yaman 

Pada tahun 2018, intervensi internasional yang agresif yang ada di Yaman ini mencegah buruknya apa yang para pejabat yang ada di Amerika Serikat ini anggap sebagai hal krisis kemanusiaan yang paling terburuk yang ada di dunia, pada tahun 2020 ini bisa saja menawarkan kesempatan langkah untuk mengakhiri sebuah perang. Pada kesempatan itu bagaimanapun adalah sebuah produksi dari gabungan faktor lokal, regional dan juga internasional.

Kerugian yang didapat oleh perang ini sudah sangat jelas. Kerugian yang didapat oleh manusia pada saat itu adalah perang ini sudah membunuh banyak orang sekitar 100.000 orang dan hal ini juga mendorong negara yang sudah menjadi negara termiskin yang ada di dunia dan juga Arab  di ambang kelaparan pada kala itu. Yaman ini sudah menjadi pusat negara yang kritis dalam persaingan yang ada di Timur Tengah antara Iran yang satu sisi nya itu Amerika Serikat dan juga pada sekutu regional  yang ada di sisi lainnya. Namun setahun setelahnya itu secara singkat telah menyita banyak sekali berita yang utama internasional, konflik yang ada sejak lima tahun itu sangat beresiko tergelincir keluar dari perhatian internasional.

 

Ethiopia 

Mungkin saja tidak ada sebuah janji dan juga bahaya untuk tahun yang akan mendatang yang akan lebih mencolok daripada di Ethiopia, negara Ethiopia ini adalah negara yang memiliki populasi yang paling terdapat dan juga negara yang sangat berpengaruh di Afrika Timur. Perdana Menteri Abiy Ahmed mulai menjabat pada bulan April 2018 ini sudah berani mengambil sebuah langkah untuk membuka politik negara. Abiy Ahmed ini sudah mengakhiri perselisihan yang sedang berlangsung dan juga telah menunjukan reformasi ke lembaga-lembaga yang utama. Ia ini sudah memenangkan berbagai penghargaan yang berada di luar negeri, termasuk juga pada penghargaan Nobel Perdamaian pada tahun 2019. Namun tantangan yang sangat besar mulai tampak. Protes massa pada tahun 2015 hingga tahun 2018 yang membawa perdana menteri Abiy ke tampuk kekuasaan yang dimotivasi terutama oleh keluhan pada politik dan juga sosial ekonomi. Namun mereka juga memiliki nada etnis juga, khususnya yang berada di daerah-daerah yang memiliki penduduk yang paling padat di Ethiopia, Amhara dan juga Oromia, yang para pemimpinnya itu berharap untuk mengurangi pada pengaruh minoritas Tigray yang lama dominan. Liberalisasi dan juga sebuah upaya menteri Abiy untuk membongkar sebuah tatanan yang ada telah memberi energi yang baru pada etnonasionalisme, sementara hal ini telah melemahkan negara pusat.

Perselisihan etnis yang ada di seluruh negeri telah melonjak dan juga sudah menewaskan orang, telah menggusur jutaan orang dan juga telah memicunya permusuhan di antara para pemimpin yang ada di daerah yang paling kuat. Pemilu yang sudah dijadwalkan pada bulan Mei 2020 lalu dapat menjadi sebuah kekerasan dan juga dapat memecah belah, seiring para kandidatnya mulai mengalahkan satu sama lain dengan menggunakan etnisitas untuk mendapatkan suara dukungan.

 

Burkina Faso

Burkina Faso ini adalah sebuah negara yang terbaru yang menjadi korban ketidakstabilan yang akan menganggu wilayah di Sahel Afrika. Militan Islam telah melancarkan sebuah pemberontakan intensitas yang rendah di utara negara sejak tahun 2016 lalu. Pemberontakan ini pada awalnya sudah dipelopori oleh seorang Ansarul Islam, sebuah kelompok yang dipimpin oleh Ibrahim Malam Dicko, ia adalah seorang warga Myanmar dan juga seorang pengkhotbah setempat. Meskipun hal ini berakar di utara Burkina Faso, tampak nya Ibrahim ini memiliki hubungan yang erat dengan Jihadis di negara tetangga Mali. Setelah Dicko ini tewas dalam sebuah bentrokan dengan para pasukan Burkinabe pada tahun 2017, saudaranya yang bernama Jafar telah mengambil alih tetapi ia juga dikabarkan telah tewas dalam serangan udara pada bulan oktober 2019 lalu.

Kekerasan ini mulai menyebar, hal ini merusak sebagian wilayah yang besar bagian utara dan juga bagian timur, menggusur sekitar setengah juta orang dari total yang ada pada popularitas yang ada di negara itu yang berjumlah sekitar 20 juta dan juga akan mengancam membuat daerah daerah tersebut menjadi tidak stabil termasuk juga pada bagian barat daya. Justru hal ini siapa yang bertanggung jawab. Selain Ansarul Islam, ada sekelompok jihad yang berabasi di Mali ini juga termasuk pada ISIS lokal dan juga pada cabang al Qaeda sekarang ini juga sudah beroperasi di Burkina Faso.